Coba tanya ke tim finance atau operasional di kantor: “Laporan bulanan ini dari ERP atau dari Excel?”. Sistemnya sudah ada, sudah investasi mahal, sudah diimplementasikan bertahun-tahun namun begitu deadline mepet, yang dibuka tetap file Excel yang itu-itu juga.
Ini bukan cerita satu dua perusahaan. Deloitte pernah mencatat bahwa sekitar 70% perusahaan masih mengandalkan Excel untuk data dan proses yang sifatnya krusial, meskipun mereka sudah punya sistem yang seharusnya menggantikan peran tersebut. Jadi kalau di tempat kerjamu terjadi hal serupa, kamu nggak sendirian.
Pertanyaannya bukan “kenapa orang masih suka Excel” karena jawabannya jelas, Excel mudah dipakai dan semua orang sudah paham. Pertanyaan yang lebih penting adalah: kenapa ERP yang sudah diinvestasikan dengan biaya besar, kok, masih kalah sama spreadsheet?
Excel Memang Belum Benar-Benar Kalah
Kalau lihat datanya, penurunan penggunaan Excel itu ada, tapi pelan. Pada 2018, sekitar 63% bisnis di Amerika Serikat melaporkan menggunakan Excel sebagai alat penganggaran utama. Setahun kemudian angkanya turun jadi 54%. Tren menurun, namun jauh dari kata “ditinggalkan”.
Yang lebih menarik justru gambaran di lapangan sehari-hari. Survei dari FSN terhadap eksekutif finance menemukan hal yang cukup mengejutkan: 43% responden bahkan tidak tahu persis ada berapa banyak spreadsheet yang beredar di perusahaan mereka. Lebih dari separuh (60%) mengaku terlalu banyak waktu terbuang untuk membersihkan dan merapikan data secara manual. Dan di 57% kasus, laporan cuma bisa dikerjakan satu orang dalam satu waktu padahal ini persis masalah yang harusnya sudah selesai kalau sistemnya benar-benar terpusat.
Kenapa ERP Belum Bisa Menggeser Excel Sepenuhnya
Ada beberapa alasan kenapa pola ini terus berulang, dan kebanyakan bukan soal tim yang keras kepala atau malas belajar sistem baru.
Implementasi ERP sendiri sering nggak mulus. Ini yang jarang dibahas terbuka: proyek ERP itu berisiko tinggi. Gartner dan Panorama Consulting sama-sama melaporkan bahwa tingkat kegagalan implementasi ERP berada di kisaran 55-75%. Riset Panorama tahun 2025 bahkan menyebut angka kegagalan keseluruhan mencapai 68%. Khusus di sektor manufaktur, angkanya lebih parah yaitu sekitar 73% proyek ERP gagal memenuhi tujuan awal, dengan biaya membengkak rata-rata 215% dari anggaran. Kalau sistem barunya terasa setengah jadi atau nggak sesuai janji, wajar saja tim kembali ke alat yang sudah mereka kuasai luar kepala.
Penyebab kegagalan itu jarang soal teknologi, lebih sering soal manusia. Analisis dari Godlan tahun 2025 menyebut manajemen perubahan yang buruk jadi penyebab tunggal terbesar, bertanggung jawab atas lebih dari 42% kegagalan implementasi ERP. Sistemnya bisa saja sudah bagus secara teknis, tapi kalau pelatihannya setengah-setengah, karyawan akan tetap merasa lebih aman kerja di Excel.
Proyeknya sendiri jarang selesai sesuai rencana. Data dari Gartner dan CIO.com menunjukkan cuma sekitar 30% proyek ERP yang kelar tepat waktu dan sesuai budget. Begitu proyek molor, biasanya ada modul-modul yang “ditunda dulu” dan pekerjaan yang seharusnya pindah ke sistem baru pun balik lagi ke Excel sebagai solusi sementara yang, sialnya, sering jadi permanen.
Risiko yang Sering Nggak Kelihatan dari Atas
Masalahnya, ketergantungan sama Excel di tengah adopsi ERP bukan cuma soal kerja jadi kurang efisien. Ada beberapa risiko yang baru kelihatan setelah terlambat:
Kontrol internal jadi lemah. Banyak orang mengaku khawatir apakah kontrol internal mereka benar-benar berjalan dan itu wajar, karena proses manual di spreadsheet memang susah diaudit secara konsisten.
Ada juga soal ketergantungan pada satu orang. Rumus Excel yang rumit sering cuma dipahami satu staf tertentu, tanpa dokumentasi. Begitu orang itu resign atau pindah divisi, proses kerjanya ikut hilang.
Belum lagi data silo antar-tim, di mana setiap divisi punya versi spreadsheet-nya sendiri, sehingga angka yang beredar bisa beda-beda meski merujuk ke periode yang sama. Dan yang paling terasa di level manajemen: ROI dari investasi ERP jadi nggak pernah benar-benar tercapai, padahal biaya lisensi dan implementasinya sudah keluar duluan.
Jadi, Bagaimana Solusinya?
Pendekatan yang lebih realistis biasanya dimulai dari memetakan dulu di titik mana Excel masih dipakai, dan kenapa. Sering kali jawabannya adalah ada gap fitur spesifik yang sebenarnya bisa diatasi lewat konfigurasi tambahan di ERP bukan karena timnya nggak mau berubah.
Manfaatkan juga integrasi antara Excel dan ERP, banyak sistem modern sekarang mendukung add-in atau koneksi API, jadi staf tetap bisa kerja di sistem yang familiar, tapi datanya tetap bersumber dari satu sistem yang sama.
Yang paling sering dilupakan: fokus ke manajemen perubahan sejak hari pertama proyek, bukan cuma ke konfigurasi teknis. Mengingat ini penyebab kegagalan implementasi yang paling sering muncul di berbagai riset, investasi waktu di sini biasanya lebih worth it dibanding buru-buru go-live.
Dan terakhir tidak ada masalah kalau ada fase hybrid selama masa transisi. Yang penting ada arah dan target waktu yang jelas menuju konsolidasi penuh, bukan kondisi “sementara” yang dibiarkan jadi permanen tanpa evaluasi ulang.





